TigaPilar id
Media Mitra TNI & POLRI
*SIDOARJO* – Sudah 6 tahun berlalu, namun harapan memiliki *Aula Sekolah* di *SMP Negeri 2 Krembung* masih sebatas angan. Proyek pembangunan yang dimulai sejak *awal tahun 2020* menggunakan dana *DAK* itu kini terbengkalai. Bangunan setengah jadi dengan atap rapuh dan material tua menjadi pemandangan yang memprihatinkan.
Kondisi ini sangat membahayakan, mengingat sekolah tersebut saat ini memiliki *830 siswa* yang setiap hari beraktivitas di lingkungan sekolah. Taman pendidikan yang seharusnya indah dan rapi, justru dihantui bangunan mangkrak yang berpotensi runtuh.
Berdasarkan informasi dari *Ibu Fifin selaku TU SMPN 2 Krembung*, proyek aula tersebut mulai dikerjakan tahun 2020. Saat itu anggaran yang dikucurkan ternyata *kurang dari kebutuhan*.
“Karena dananya kurang, akhirnya sisa material lama yang masih ada di sekolah kita pergunakan dulu,” ujar Bu Fifin saat ditemui tim *Media Tigapilar*, *Kamis 27 Agustus 2026*.
Saat ditanya soal nilai kontrak proyek, Bu Fifin mengaku tidak tahu. “Untuk nilai kontrak saya kurang paham. Yang mengelola anggaran pada tahun 2020 itu *Kepala Sekolah, Ketua TU, dan Panitia Pembangunan* waktu itu,” jelasnya.
Ironisnya, bangunan mangkrak ini ternyata sudah pernah menjadi perhatian wakil rakyat. *Tahun lalu*, anggota *DPRD Kabupaten Sidoarjo Bapak Resa dari Partai PKB* sempat datang meninjau lokasi.
“Waktu itu beliau janji mau membantu memperbaiki gedung yang mangkrak ini. Tapi ujung-ujungnya ya hanya janji-janji doang, tidak ada tindak lanjut,” ungkap Bu Fifin dengan nada kecewa.
Sejak kunjungan itu, tidak ada lagi kabar. Proyek tetap mangkrak, dan atap yang dipasang seadanya kini sudah lapuk dimakan usia dan cuaca.
*Kondisi Memprihatinkan, Ancam 830 Siswa*
Saat wartawan meninjau langsung ke lokasi pada *Kamis, 27 Agustus 2026*, kondisi bangunan sangat memprihatinkan. Rangka atap terlihat berkarat, genteng sebagian bolong, dan tiang penyangga tampak tidak kokoh.
“Ini sangat bahaya. Material bangunannya sudah rapuh. Bayangkan kalau pas ada kegiatan dan tiba-tiba ambruk. Anak-anak kita ada 830, jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” tegas Bu Fifin.
Ia berharap ke depan ada *tindak lanjut nyata dari pemerintah* untuk melanjutkan atau membongkar bangunan tersebut. Aula sangat dibutuhkan untuk kegiatan siswa seperti pentas seni, pertemuan wali murid, dan upacara.
Pihak sekolah berharap ada perhatian serius dari *Dinas Pendidikan Sidoarjo, DPRD, dan Pemerintah Kabupaten*. Jangan sampai menunggu ada korban baru proyek ini ditangani.
“Sekolah itu harusnya tempat yang aman dan indah dipandang. Kami mohon segera ada solusi. Mau dilanjutkan silakan, mau dibongkar juga silakan. Yang penting tidak membahayakan anak-anak,” pungkasnya.
Proyek mangkrak ini menjadi catatan penting bagi dunia pendidikan di Sidoarjo. Dana DAK yang seharusnya membangun sarana belajar, justru menyisakan bangunan hantu yang kini menjadi bom waktu.
Bersambung
RED TEAM

